jump to navigation

Jalan-jalan ke Yogjakarta, Prambanan dan Dieng January 1, 2009

Posted by atyaga1177 in Jalan-jalan.
3 comments

Hal yang sangat menyenangkan dapat berlibur dan berwisata bersama keluarga, setelah selama satu tahun disibukkan dengan kegiatan di kantor. Benar-benar menyenangkan.

Oh ya…tulisan ini diluar topik blog ini, tapi tidak apa-apa, sekali dalam setahun saya ingin menceritakan perjalanan wisata ke Jogyakarta, tentunya tidak dilewatkan Candi Borobudur dan Malioboro. Selanjutnya ke Candi Prambanan dan Dataran Tinggi Dieng.

Sepanjang perjalanan dari Bandung sampai ke Jogyakarta, kanan kiri jalan dipenuhi oleh bendera dan spanduk partai, tidak indah…karena ditempatkan tidak beraturan, seolah-olah tidak ada pengaturan dan pengelolaan yang baik, antara pemerintah dan calon-calon anggota legislative. Berebut mencari simpati pemilih, tapi tidak dengan cara simpatik. Apalagi di sepanjang jalan Letjen Suprapto di Jogyakarta, sangat tidak indah.

Hal yang sangat tidak diperkirakan, adalah tempat penginapan, semua hotel, dari hotel berbintang sampai kelas penginapan semuanya penuh, tidak tersisa. Dengan berbekal usaha teman yang ada di Jogyakarta, akhirnya saya mendapat tempat menginap di jalan Prawirotaman, alhamdulillah.

Malam hari, untuk jalan-jalan di Malioboro, entah mengapa jalan-jalan di Malioboro tidak pernah ada rasa bosan, dari mulai penjual makanan, pengamen dan becak yang selalu hadir di Malioboro. Untuk kali ini, hal yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya adalah banyaknya pemakai sepeda motor, dari mulai trotoar sampai jalan dipadati oleh motor. Khususnya di trotoar, dijadikan tempat parkir, ini yang sangat mengganggu, karena tempat jalan kaki tidak nyaman lagi.

Keesok harinya, saya jalan ke Candi Prambanan, sungguh cantik dan indah Candi Prambanan ini, walaupun sampai saat ini, batu-batuan yang tersisa akibat gempa bumi, masih belum dibereskan dan disusun menjadi candi.

Ada cerita yang menarik dan ada persamaan antara cerita Candi Prambanan dengan Gunung Tangkuban Perahu di Bandung, Jawa Barat.

Keduanya menceritakan seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada seorang wanita, lalu wanita itu akan menerima cinta pemuda itu dengan syarat :

  1. Di cerita Candi Prambanan, membuat 1.000 buah candi dalam waktu satu malam, sebelum terbit matahari.
  2. Di cerita Tangkuban Perahu, membuat perahu dalam waktu satu malam sebelum terbit matahari

Dari kedua cerita ini, pemuda tersebut tidak dapat memenuhi syarat yang diajukan oleh wanita itu, bukan karena pemuda tersebut tidak sanggup memenuhinya, tapi karena wanita itu melakukan upaya, agar si pemuda tidak dapat memenuhi syarat itu. Karena merasa dipermainkan, maka pemuda itu marah, dengan melakukan :

1. Di cerita Candi Prambanan, mengutuk wanita itu menjadi patung, patung itu kini dinamakan patung Loro Jonggrang.

2. Di cerita Tangkuban Perahu, menendang perahu itu, dan menjadi gunung Tangkuban Perahu, (bentuk gunung Tangkuban Perahu mirip dengan bentuk perahu yang terbalik).

Hari ketiga ke dataran tinggi Dieng, letak dataran tinggi Dieng ini 2.039 di atas permukaan laut. Sungguh indah melihat pemandangan ke bawah dari ketinggian 2.000 meter tersebut. Kawah Dieng sangat dinamis, karena dari ke hari, kawah baru bermunculan, dan yang lama ada yang berhenti atau bertambah besar. Ada tiga kawah di Dieng yang mengandung racun, bahkan beberapa tahun yang lalu, karena udara yang keluar mengandung racun ini, mematikan kurang lebih 149 orang.

Selain kawah Dieng yang indah, kehidupan masyarakat Dieng sangat unik, karena perpaduan antara budaya Hindu dan Islam menyatu dalam kegiatan sehari-hari. Disepanjang jalan menuju puncak Dieng, saya perhatikan banyak sekali masjid-masjid didirikan, jaraknya saling berdekatan. Apakah ini ada dua golongan atau apa, saya tidak sempat menanyakan ke masyarakat sekitar.

Dari dataran tinggi Dieng, saya langsung pulang ke Bandung, sambil membawa kenangan indah bersama keluarga. Nantikan perjalanan selanjutnya…

Di belakng..candi Prambanan

Di belakng..candi Prambanan